Aku suka bermain dengan secarik kertas dan sebuah
pena.
Hanya kami bertiga saja.
Lalu Tuhan menjadi saksinya.
----
Diiringi
alunan musik Adelle jari-jari tanganku mulai mengetik kata demi kata yang ingin
kukatakan padamu. Kamu yang selalu membuat bingung akal sehatku dengan
hadirnya pemikiran tentang dirimu disetiap waktu luang dan sibukku. Seperti
saat ini, aku mulai mencari-cari alasan untuk tak memikirkanmu. Tapi seperti
biasanya, tak bisa. Tak dapat kutemukan. Kamu, apa yang telah kamu lakukan
padaku? Mengapa, mengapa harus kamu yang membuatku kebingungan seperti ini.
Kenapa hanya kamu..
Langit
senja diluar sana, seketika mengelam pekat tertutupi awan hitam. Tepat pada detik-detik aku
ingin lenyapkan kamu dari fikiranku. Dan entah kenapa, hatiku tak suka. Dia
memberontak. Kenapa.. Aku tak mengerti. Bagaimana bisa, rasa ini menguasai
hatiku seperti ini. Bukankah aku telah mengunci pintu hatiku rapat-rapat untuk
rasa ini? Aku tak ingat jika aku telah melakukan kecerobohan. Kurasa aku sudah
berhati-hati. Kurasa aku sudah sangat berhati-hati dalam hal ini. Lalu
bagaimana bisa? Kamu.. Apa kamu sekuat itu, hingga dapat mendobrak pintu ini. Apa ini akhir dari segala usahaku. Apakah, ini saat yang tepat bagi hati yang pernah terluka tuk memeluk rasa...
Ah,
tidak. Cukup. Aku lelah.
Naz.

