Jumat, 25 Desember 2015

Teman Yang Baik.

Aku suka bermain dengan secarik kertas dan sebuah pena. 
Hanya kami bertiga saja. 
Lalu Tuhan menjadi saksinya. 
  
----
Ketika kau menanyakan kabarku, apa kau benar-benar ingin tahu?
Ketika kau mengatakankan bahwa kau peduli, apa benar begitu?
Ketika kau menyebutku sebagai temanmu, apa kau mengatakannya dengan sungguh?

"Tidak semua saudara adalah teman.
Itu sebabnya, teman adalah saudara yang dilahirkan dari ibu yang berbeda."

Teman yang baik
adalah dia yang memiliki banyak persamaan denganmu, 
namun tetap menghargai 
segala perbedaan yang ada.

Teman yang baik 
adalah dia yang tahu kekuranganmu, 
tapi menunjukkan kelebihanmu.
Dia yang tahu ketakutanmu, 
tapi menunjukkan keberanianmu.

Teman yang baik,
adalah dia yang tahu bahwa ada sedih di matamu,
ketika seluruh dunia percaya
akan senyum di wajahmu.

Teman yang baik
adalah dia yang selalu ikut rebah,
ketika kau merasa lelah.
Dia yang selalu mendengarkan,
ketika kau punya banyak keluhan.

Teman yang baik
adalah dia yang pertama sekali 
menghulurkan bantuan kepadamu 
semasa kesulitan menimpamu.

Teman yang baik
adalah dia yang membantumu bangkit 
tuk percaya diri, 
ketika orang lain berusaha menjatuhkan 
dan meremehkanmu.

Teman yang baik
adalah dia yang takkan selalu mendukungmu, 
tapi selalu bisa menuntunmu.

Teman yang baik
adalah dia yang selalu menyampaikan kebenaran,
walau terkadang itu menyakitkan. 
Tapi itu dia lakukan 
untuk kebaikan.


Teman yang baik
adalah dia yang tetap tinggal untuk menemani, 
disaat semuanya mulai pergi 
dan tak ada yang mau peduli.

Teman yang baik
adalah dia yang kamu butuhkan dalam hidup ini. 
Dan dia 
adalah orang yang juga 
membutuhkanmu dalam hidupnya.
---

Q: Sudahkah Kita Menjadi Teman Yang Baik? 

Naz.

Rabu, 23 Desember 2015

Sumber Inspirasiku.

Aku suka bermain dengan secarik kertas dan sebuah pena. 
Hanya kami bertiga saja. 
Lalu Tuhan menjadi saksinya. 

----
Kita baru saja bertemu.
Ya, aku tahu itu.
Tapi apakah kau tahu
betapa kau tlah merubah hidupku.

Ketika aku mulai terpuruk.
Jatuh.
Lalu terhimpit rasa kecewa.
Menyerah.
Seperti dongeng,
kau datang kepadaku.
Bukan dengan seekor kuda
atau mahkota besar kerajaan itu
tapi dengan tulisan-tulisanmu.
Ya, hanya dengan tulisanmu.

Kau membangkitkan gairah hidupku.
Kobarkan api semangat yang pernah padam.
Memberi energi kuantum pada kreativitasku.
Kau, sumber inspirasiku.

Terima kasih telah membangunkanku
dari tidur panjang yang sia-sia itu.
Terima kasih telah membantuku
menjalin kembali asa itu.

Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Sumber inspirasiku.
---


Naz.

Selasa, 22 Desember 2015

Merindumu Dengan Sangat.

Aku suka bermain dengan secarik kertas dan sebuah pena. 
Hanya kami bertiga saja. 
Lalu Tuhan menjadi saksinya. 

----
Aku tahu ini gila.
Menulis hal seperti ini seolah kau sedang membacanya. 
Aku hanya.... 
Aku hanya tak dapat menahan semua hal ini –lagi! 
This shit is running in my head. 
Aku mencintaimu. 
Tak tahu sejak kapan rasa ini memeluk hatiku. 
Aku mencintaimu. 
Tapi kau tak peduli. 
Hingga kuputuskan tuk menjauh darimu. 
Bukan bermaksud tuk enyahkan rasa ini. 
Tidak. 
Tapi kuingin mengetahui arti hadirku bagimu. 
Dan kudapati kau masih tak peduli. 
Hingga Tuhan pertemukan aku dan dia. 
Dia yang mencintaiku. 
Dia yang membuatku mengetahui bagaimana rasanya diinginkan. 
Rasanya dicintai.
Dan dihargai.
Tapi aku sadar hubungan ini tak ‘kan bertahan lama. 
Karna jauh di dalam lubuk hatiku, masih ada kamu. 
Dan hatiku menolak siapapun 
yang berusaha menggantikan posisimu, di hatiku. 
Aku mencintaimu. 
Aku mencintaimu dengan sederhana. 
Sampai kini pun masih. 
Walau ku fikir tak mungkin, but I do. 
Aku masih mencintaimu. 
Mencintamu dengan sangat. 

I always pretend that I don’t want you. 
Aku tidak merindukanmu. 
But all these lies have showed me 
bahwa aku merindukanmu. 
Aku sangat merindukanmu.
---


*8815
Naz.

Aku, Kertas, Pena, dan Tuhan.

Aku suka bermain dengan secarik kertas dan sebuah pena. 
Hanya kami bertiga saja. 
Lalu Tuhan menjadi saksinya. 
  
----
Bagiku menulis adalah dunia.
Duniaku.
Aku yang awalnya hanya suka membaca dan membaca karya mereka
yang tak dapat kusebut satu persatu namanya
kemudian terfikirkan sebuah tanya,
"Mengapa tak kau tulis sendiri saja?"
setiap kali hatiku berkata ada yang salah dengan tulisan ini
atau
akan lebih bagus jika ditulis dalam versi yang seperti ini..
Lebih menarik.
Lalu disinilah aku.
Dengan secarik kertas dan sebuah pena.
Dan Tuhan menjadi saksinya.
Menulis.
Menulis apapun yang ada difikiranku saat ini.

Jika kau bertanya tentang apa yang kutulis sekarang,
aku hanya bisa menjawab, "Aku tidak tahu."
Aku hanya menulis apa yang ada difikiranku saat ini.
Karna pada awalnya aku pun tak tahu apa yang harus ku tulis.
Tapi rasa ini sangat kuat.
Aku ingin menulis.
Maka disinilah aku.
Dengan secarik kertas dan sebuah pena.
Lalu Tuhan menjadi saksinya.

Karna Bang Darwis pernah berkata,
"Tulis saja apapun yang ada difikiranmu dek. Tulis saja.
Sekalipun kamu tidak tahu mau menulis apa, tulis saja.
Nanti juga akan menjadi sebuah tulisan dengan sendirinya.
Yang penting tetap berlatih.
Latihan, latihan dan latihan."
Lalu disinilah aku.
Dengan secarik kertas dan sebuah pena.
Dan Tuhan menjadi saksinya.
Menulis.
Menulis apapun yang ada difikiranku.
---


Naz.