Selasa, 22 Desember 2015

Merindumu Dengan Sangat.

Aku suka bermain dengan secarik kertas dan sebuah pena. 
Hanya kami bertiga saja. 
Lalu Tuhan menjadi saksinya. 

----
Aku tahu ini gila.
Menulis hal seperti ini seolah kau sedang membacanya. 
Aku hanya.... 
Aku hanya tak dapat menahan semua hal ini –lagi! 
This shit is running in my head. 
Aku mencintaimu. 
Tak tahu sejak kapan rasa ini memeluk hatiku. 
Aku mencintaimu. 
Tapi kau tak peduli. 
Hingga kuputuskan tuk menjauh darimu. 
Bukan bermaksud tuk enyahkan rasa ini. 
Tidak. 
Tapi kuingin mengetahui arti hadirku bagimu. 
Dan kudapati kau masih tak peduli. 
Hingga Tuhan pertemukan aku dan dia. 
Dia yang mencintaiku. 
Dia yang membuatku mengetahui bagaimana rasanya diinginkan. 
Rasanya dicintai.
Dan dihargai.
Tapi aku sadar hubungan ini tak ‘kan bertahan lama. 
Karna jauh di dalam lubuk hatiku, masih ada kamu. 
Dan hatiku menolak siapapun 
yang berusaha menggantikan posisimu, di hatiku. 
Aku mencintaimu. 
Aku mencintaimu dengan sederhana. 
Sampai kini pun masih. 
Walau ku fikir tak mungkin, but I do. 
Aku masih mencintaimu. 
Mencintamu dengan sangat. 

I always pretend that I don’t want you. 
Aku tidak merindukanmu. 
But all these lies have showed me 
bahwa aku merindukanmu. 
Aku sangat merindukanmu.
---


*8815
Naz.

0 komentar:

Posting Komentar