REY
“Oleh seorang Juanda!!!??”
“Ssssstt. Keep
it down Rey!”
Aku tak menggubris. Tidak juga memperdulikan
perhatian orang-orang disekelilingku yang dengan refleks menolehkan kepala
mereka ke arah mejaku dan Nayla secara bersamaan disebabkan oleh tingginya
suaraku saat itu. Beberapa dari mereka bahkan berbisik-bisik sambil tetap
mengarahkan pandangan mereka padaku. Mereka membicarakanku. Aku tahu dan aku
tetap tidak peduli.
Hari ini Nayla mengajakku makan siang di luar saat
jam istirahat kantor. Hanya dua hal yang mampu membuatku kaget setengah mati;
pertama, ketika aku diberi surat kontrak pergi ke London untuk menemani One
Direction dalam tour dunianya bersama
kameraku –yang hingga kini masih menjadi anganku, dan satunya lagi disaat aku
tahu hal yang buruk terjadi dan menimpa orang-orang yang ku sayang.
Nayla, hatinya telah disentuh oleh seseorang yang
keburukannya ku kenal baik. Ini adalah salah satu mimpi buruk yang benar-benar
tak kuinginkan ia menjadi nyata. Oh God,
bagaimana bisa.. Nayla, bagaimana bisa…
“I know. Such a
bad dream huh?”
Pertanyaan retoris.
“Well, aku
tahu ini seperti mimpi buruk bagi kamu. Kabar burung tentang ke-playboy-an dia juga sudah sampai
ditelingaku. Tapi aku..”
Memang. WAIT
“Itu bukan sekedar kabar burung Nay. Itu kenyataan!”
nafasku memburu.
“I said keep it
down! Rey, aku lagi nggak mood buat bertengkar sama kamu, okay?”
“Aku sudah memikirkannya. Semuanya, yang berhubungan
dengan hal ini. Mulai dari –oh yaa, mungkin sudah waktunya untukku memulai
kembali perjalananku. Just let it happen.
Aku juga sudah memikirkan segala kemungkinan yang ada. Termasuk apa yang
akan terjadi jika ini tidak berhasil dan aku siap, maybe.”
Aku menarik nafas. Menatapnya tajam.
“I did one or
two things to stop it but it won’t.. It won’t stop. Gak mempan Rey. Kamu tahu gimana perasaan seorang
tunawicara yang telah kehilangan harapan lalu tiba-tiba pada suatu hari ia
mendapatkan suaranya kembali, tanpa pernah ia sangka sebelumnya? Untuk
percakapan biasa bagi kita saja ingin ia teriakkan sekeras yang ia bisa agar
dunia dan seisinya mendengar suaranya. Kamu tahu rasanya Rey? Begitulah aku
saat ini. Aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Menyia-nyiakan rasa ini.
Rasaku, rasanya. No, I don’t want it to go to waste. I’m living
for this day, Reyna Wirawan.”
Lagi, aku menarik nafasku tapi yang satu ini lebih
dalam dari sebelumnya. Kuperhatikan kepulan asap yang membumbung dari cangkir
kopi hitam kesukaanku yang dipesan Nayla sebelum aku tiba disana. Cáffe. Bangunan dua lantai bergaya klasik itu memiliki
daya pikatnya tersendiri. I don’t know
how to say it. It calms you down.
Tampak dari luar seperti bangunan tua yang dibiarkan
begitu saja, tapi tunggu ketika kau sudah melewati pintu depannya, yang kau
rasakan hanya nyaman. Mungkin hal itulah yang membuatnya berbeda. Hal itulah
yang membuatnya masih berdiri hingga saat ini.
Memang, Cáffe pernah
kekurangan pengunjung. Karena perkembangan zaman, satu per satu Caffe dan Resto
lain pun mulai bermunculan di luar sana. Lebih besar, keren dan pastinya lebih
trendy. Namun hal itu tidak sampai membuatnya mati.
Orang-orang seperti kami lah yang menjaganya tetap
hidup sampai detik ini. Generasi 90an. Well,
karena tempat itu dibangun pada tahun 90an dan kebanyakan pengunjungnya
juga lahir pada rentang waktu tersebut, orang-orang biasa menyebutnya sebagai tongkrongan
legend anak 90an. Tolean, me and Nayla –secretly joking-named
it.
Kami tak pernah absen dalam hal mengunjungi Cáffe sejak masih duduk di bangku SMA hingga saat ini. We always share our secrets and lies there.
Saat masih sekolah, tak jarang aku menjadikannya sebagai tempat pelarianku dari
kelas.
Matematika selalu ada dalam list do’aku. Tapi berbeda dari murid lain yang selalu berdo’a agar
dimudahkan otaknya dalam mencerna pelajaran yang satu itu, aku berdo’a agar
pelajaran itu dihapus. Dihilangkan untuk selamanya.
Tempat itu sudah seperti menjadi rumah kedua bagi
aku dan Nayla.
Bahkan sekembalinya aku dan Nayla dari New York -thanks God, kami mendapat kabar gembira dari
pihak sekolah bahwa kami termasuk siswa yang ajuan beasiswa untuk kuliah di New
York nya diterima setelah kelulusan- hal yang kami lakukan setelah pesawat kami
mendarat dan mengambil koper adalah menyempatkan diri untuk mampir ke Cáffe sebelum pulang ke rumah.
Ku genggam cangkir kopi itu lalu menyesapnya pelan. Setelahnya
kulemparkan mataku ke arah Nayla.
“First, do you
know how much I care about you?”
“How much?”
“A lot.”
“Oh yeah.”
“Yeah. Aku tahu, memang sudah saatnya kamu membuka diri
dan hati kamu untuk peluang yang ada. Toh, kita juga sudah dewasa. Ibu juga
pernah bilang dia ingin segera melihat kamu menikah, kan? Tapi…”
“Okay. But
what?”
“Tapi karena kita sudah dewasa maka dari itu kita seharusnya
bisa lebih berhati-hati. Kamu harusnya bisa lebih berhati-hati. Cuma satu - dua
hal itu nggak cukup, Nayla Az-Zahra. Nggak cukup. Kamu harus melakukan berbagai
cara. Jika cara-cara yang terdahulu udah gak ada yang mempan, ciptakan cara
yang baru. Someone like him always can
get you off of your feet and makes it okay to get hurt. You always have to one
step ahead. Jika dia memiliki 1001 cara, kamu harus pastikan bahwa kamu
memiliki 1002 atau bahkan lebih dari itu untuk menolaknya.”
Nayla menghabiskan orange juice-nya.
“Are you done?”
“Oh dan satu hal lagi. Aku nggak tau gimana perasaan
tunawicara yang telah kehilangan harapan lalu tiba-tiba pada suatu hari ia
mendapatkan suaranya kembali, and blah
blah because aku bukan salah satunya. I
hope I will never be. Emang kamu mantan tunawicara? Kok aku gak pernah tau
ya?”
“You done now?”
“Nay, tolong jangan keras kepala.”
“Aku yang keras kepala atau kamu yang negative thinking?”
Angin berhembus pelan, seperti berupaya mendinginkan
suasana di antara kami.
Sebelum berangkat tadi aku sengaja menyuruh Nayla
untuk mengambil meja di halaman depan saja dan bukan di meja dalam yang biasa
kami tempati karena prediksi cuaca hari ini cerah berawan.
“Look, Nay” aku melembutkan suaraku, berusaha memberi bantuan
pada sang angin.
“Don’t get me
wrong.” terusku. “I know this guy. And he’s not good for you. I don’t want you to get hurt, Nay. Tidak karena Juanda atau lelaki
brengsek manapun di dunia ini.”
It looks like it
doesn’t work, huh. Usahaku dan
angin tampaknya sia-sia saja karena diseberang meja, Nayla tetap menjadi Nayla.
Dia bahkan telihat mengeraskan rahangnya ketika kalimat itu keluar dari
bibirku.
“And don’t get
me wrong too, Reyna.”
Nayla menatap lurus mataku.
“Gimana kalau dia benar-benar pasangan hidupku?
Gimana kalau setelah ini aku nggak akan bisa mencintai lagi? You know what I mean? It matters how this
ends.”
“Nay, aku nggak apa-apa kalau kamu jatuh cinta lagi
tapi jangan Juanda. Jangan dia.” tegasku.
Nayla membuang muka ke arah badan jalan dan aku
merapatkan jaketku.
Udara diluar sini mulai menusuk hingga ke tulang. Tapi aura yang keluar dari kami ketika pembicaran ini terjadi membuat perasaan kami tetap hangat. Bahkan membara.
Udara diluar sini mulai menusuk hingga ke tulang. Tapi aura yang keluar dari kami ketika pembicaran ini terjadi membuat perasaan kami tetap hangat. Bahkan membara.
Disisi lain, angin sepertinya tidak terima melihat
usahanya tak membuahkan hasil. Karena saat ini, ia berhembus lebih kencang dari
sebelumnya.
Hujan turun, tepat setelah aku mengosongkan cangkir
kopiku.
***
*to be continued

