Minggu, 14 Agustus 2016

His Love (2)

REY



  “Oleh seorang Juanda!!!??”
  “Ssssstt. Keep it down Rey!
  Aku tak menggubris. Tidak juga memperdulikan perhatian orang-orang disekelilingku yang dengan refleks menolehkan kepala mereka ke arah mejaku dan Nayla secara bersamaan disebabkan oleh tingginya suaraku saat itu. Beberapa dari mereka bahkan berbisik-bisik sambil tetap mengarahkan pandangan mereka padaku. Mereka membicarakanku. Aku tahu dan aku tetap tidak peduli.
  Hari ini Nayla mengajakku makan siang di luar saat jam istirahat kantor. Hanya dua hal yang mampu membuatku kaget setengah mati; pertama, ketika aku diberi surat kontrak pergi ke London untuk menemani One Direction dalam tour dunianya bersama kameraku –yang hingga kini masih menjadi anganku, dan satunya lagi disaat aku tahu hal yang buruk terjadi dan menimpa orang-orang yang ku sayang.
  Nayla, hatinya telah disentuh oleh seseorang yang keburukannya ku kenal baik. Ini adalah salah satu mimpi buruk yang benar-benar tak kuinginkan ia menjadi nyata. Oh God, bagaimana bisa.. Nayla, bagaimana bisa…
  “I know. Such a bad dream huh?”
  Pertanyaan retoris.
  “Well, aku tahu ini seperti mimpi buruk bagi kamu. Kabar burung tentang ke-playboy-an dia juga sudah sampai ditelingaku. Tapi aku..”
  Memang. WAIT
  “Itu bukan sekedar kabar burung Nay. Itu kenyataan!” nafasku memburu.
  “I said keep it down! Rey, aku lagi nggak mood buat bertengkar sama kamu, okay?”
  “Aku sudah memikirkannya. Semuanya, yang berhubungan dengan hal ini. Mulai dari –oh yaa, mungkin sudah waktunya untukku memulai kembali perjalananku. Just let it happen. Aku juga sudah memikirkan segala kemungkinan yang ada. Termasuk apa yang akan terjadi jika ini tidak berhasil dan aku siap, maybe.
  Aku menarik nafas. Menatapnya tajam.
  “I did one or two things to stop it but it won’t.. It won’t stop. Gak mempan Rey. Kamu tahu gimana perasaan seorang tunawicara yang telah kehilangan harapan lalu tiba-tiba pada suatu hari ia mendapatkan suaranya kembali, tanpa pernah ia sangka sebelumnya? Untuk percakapan biasa bagi kita saja ingin ia teriakkan sekeras yang ia bisa agar dunia dan seisinya mendengar suaranya. Kamu tahu rasanya Rey? Begitulah aku saat ini. Aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Menyia-nyiakan rasa ini. Rasaku, rasanya. No, I don’t want it to go to waste. I’m living for this day, Reyna Wirawan.”
  Lagi, aku menarik nafasku tapi yang satu ini lebih dalam dari sebelumnya. Kuperhatikan kepulan asap yang membumbung dari cangkir kopi hitam kesukaanku yang dipesan Nayla sebelum aku tiba disana. Cáffe. Bangunan dua lantai bergaya klasik itu memiliki daya pikatnya tersendiri. I don’t know how to say it. It calms you down.
  Tampak dari luar seperti bangunan tua yang dibiarkan begitu saja, tapi tunggu ketika kau sudah melewati pintu depannya, yang kau rasakan hanya nyaman. Mungkin hal itulah yang membuatnya berbeda. Hal itulah yang membuatnya masih berdiri hingga saat ini.
  Memang, Cáffe pernah kekurangan pengunjung. Karena perkembangan zaman, satu per satu Caffe dan Resto lain pun mulai bermunculan di luar sana. Lebih besar, keren dan pastinya lebih trendy. Namun hal itu tidak sampai membuatnya mati.
  Orang-orang seperti kami lah yang menjaganya tetap hidup sampai detik ini. Generasi 90an. Well, karena tempat itu dibangun pada tahun 90an dan kebanyakan pengunjungnya juga lahir pada rentang waktu tersebut, orang-orang biasa menyebutnya sebagai tongkrongan legend anak 90an. Tolean, me and Nayla –secretly joking-named it.
  Kami tak pernah absen dalam hal mengunjungi Cáffe sejak masih duduk di bangku SMA hingga saat ini. We always share our secrets and lies there. Saat masih sekolah, tak jarang aku menjadikannya sebagai tempat pelarianku dari kelas.
  Matematika selalu ada dalam list do’aku. Tapi berbeda dari murid lain yang selalu berdo’a agar dimudahkan otaknya dalam mencerna pelajaran yang satu itu, aku berdo’a agar pelajaran itu dihapus. Dihilangkan untuk selamanya.
  Tempat itu sudah seperti menjadi rumah kedua bagi aku dan Nayla.
  Bahkan sekembalinya aku dan Nayla dari New York -thanks God, kami mendapat kabar gembira dari pihak sekolah bahwa kami termasuk siswa yang ajuan beasiswa untuk kuliah di New York nya diterima setelah kelulusan- hal yang kami lakukan setelah pesawat kami mendarat dan mengambil koper adalah menyempatkan diri untuk mampir ke Cáffe sebelum pulang ke rumah.
  Ku genggam cangkir kopi itu lalu menyesapnya pelan. Setelahnya kulemparkan mataku ke arah Nayla.
  “First, do you know how much I care about you?”
  “How much?”
  “A lot.”
  “Oh yeah.”
  “Yeah. Aku tahu, memang sudah saatnya kamu membuka diri dan hati kamu untuk peluang yang ada. Toh, kita juga sudah dewasa. Ibu juga pernah bilang dia ingin segera melihat kamu menikah, kan? Tapi…”
  “Okay. But what?”
  “Tapi karena kita sudah dewasa maka dari itu kita seharusnya bisa lebih berhati-hati. Kamu harusnya bisa lebih berhati-hati. Cuma satu - dua hal itu nggak cukup, Nayla Az-Zahra. Nggak cukup. Kamu harus melakukan berbagai cara. Jika cara-cara yang terdahulu udah gak ada yang mempan, ciptakan cara yang baru. Someone like him always can get you off of your feet and makes it okay to get hurt. You always have to one step ahead. Jika dia memiliki 1001 cara, kamu harus pastikan bahwa kamu memiliki 1002 atau bahkan lebih dari itu untuk menolaknya.”
  Nayla menghabiskan orange juice-nya.
  “Are you done?”
  “Oh dan satu hal lagi. Aku nggak tau gimana perasaan tunawicara yang telah kehilangan harapan lalu tiba-tiba pada suatu hari ia mendapatkan suaranya kembali, and blah blah because aku bukan salah satunya. I hope I will never be. Emang kamu mantan tunawicara? Kok aku gak pernah tau ya?”
  “You done now?”
  “Nay, tolong jangan keras kepala.”
  “Aku yang keras kepala atau kamu yang negative thinking?”
  Angin berhembus pelan, seperti berupaya mendinginkan suasana di antara kami.
  Sebelum berangkat tadi aku sengaja menyuruh Nayla untuk mengambil meja di halaman depan saja dan bukan di meja dalam yang biasa kami tempati karena prediksi cuaca hari ini cerah berawan.
  “Look, Nay” aku melembutkan suaraku, berusaha memberi bantuan pada sang angin.
  “Don’t get me wrong.” terusku. “I know this guy. And he’s not good for you. I don’t want you to get hurt, Nay. Tidak karena Juanda atau lelaki brengsek manapun di dunia ini.”
  It looks like it doesn’t work, huh. Usahaku dan angin tampaknya sia-sia saja karena diseberang meja, Nayla tetap menjadi Nayla. Dia bahkan telihat mengeraskan rahangnya ketika kalimat itu keluar dari bibirku.
  “And don’t get me wrong too, Reyna.”
  Nayla menatap lurus mataku.
  “Gimana kalau dia benar-benar pasangan hidupku? Gimana kalau setelah ini aku nggak akan bisa mencintai lagi? You know what I mean? It matters how this ends.
  “Nay, aku nggak apa-apa kalau kamu jatuh cinta lagi tapi jangan Juanda. Jangan dia.” tegasku.
  Nayla membuang muka ke arah badan jalan dan aku merapatkan jaketku.
  Udara diluar sini mulai menusuk hingga ke tulang. Tapi aura yang keluar dari kami ketika pembicaran ini terjadi membuat perasaan kami tetap hangat. Bahkan membara.
  Disisi lain, angin sepertinya tidak terima melihat usahanya tak membuahkan hasil. Karena saat ini, ia berhembus lebih kencang dari sebelumnya.
  Hujan turun, tepat setelah aku mengosongkan cangkir kopiku.

***


*to be continued

0 komentar:

Posting Komentar