Minggu, 07 Agustus 2016

His Love


NAYLA



  Sudah 7 hari sejak peristiwa omg-akhirnya-cintaku-tak-lagi-bertepuk-sebelah-tangan, dan sudah 7 hari lamanya pula aku tak bertemu dia -menghindari untuk ketemu sih lebih tepatnya-.


  “Aku cinta kamu, Nayla Az-Zahra.”
  Kalimat yang akhirnya keluar dari seorang laki-laki bernama Juanda. Kalimat itu terus-menerus terputar dalam ingatanku selama seminggu terakhir ini. Lengkap dengan caranya menatapku, tatapan matanya seakan-akan mencairkan hatiku dan.. dan lembut suaranya ketika ia berbicara padaku. 
  Oh, dan aku sangat suka caranya menyebut nama lengkapku. Berbeda. Amat sangat berbeda dari manusia manapun yang pernah menyebutkannya, bahkan ibuku. Okay, mungkin menurut kalian aku terlalu berlebihan atau uhmm ya seperti itu tapi ini nyata. You know that you’re really in love when you know he’s no good for you but it's worse without him. Even when you try not to want him, you end up needing him. And I guess I really love him. Well, no. I am crazy in love with him. I think it’s crazy because meski aku pernah mendengar kabar bahwa Juan adalah playboy cap gayung, entah kenapa gosip tersebut tidak mampu mengalahkan rasa yang tertanam dilubuk hatiku yang paling dalam ini. Perasaan ini sangat kuat. Amat sangat kuat. Tidak seperti rasa yang pernah ada sebelumnya.
  Juan dan kecerdasannya. Juan dan ketampanannya. Juan dan keromantisannya. Juan dan kebaikannya. Juan dan segala yang ada pada dirinya yang membuatku membuka kembali pintu itu dan mempersilahkannya menjadi raja di rumah hatiku.
  Ini adalah saat yang paling kutunggu selama ini, dan juga tidak. 
  Aku pernah mencintai seseorang yang hatinya bukan untukku dan aku juga pernah dicintai oleh seseorang yang tidak aku cintai. Aku bahkan tidak tahu mana yang lebih buruk, disakiti atau menyakiti. Membayangkannya saja aku tak bisa. Can you?
  Namun faktanya, aku pernah berada di posisi keduanya dan aku merasa sangat buruk. Hingga memutuskan untuk mengisolasi hatiku, mengurungnya disuatu tempat yang – dulunya - ku yakin takkan ada yang dapat menyentuhnya. Seujung kuku pun tidak, tanpa seizinku.
  Aku juga telah memastikan bahwa pintu itu sudah ku tutup rapat dan dikunci dengan benar. But, here I am,-yang untungnya– masih bisa bernafas mengetahui bahwa usahaku selama ini –untuk menjauhkan hatiku dari luka-luka yang coba mengecupnya- gagal.

***


*to be continued

0 komentar:

Posting Komentar