NAYLA
Sudah 7 hari sejak peristiwa omg-akhirnya-cintaku-tak-lagi-bertepuk-sebelah-tangan, dan sudah 7
hari lamanya pula aku tak bertemu dia -menghindari untuk ketemu sih lebih
tepatnya-.
“Aku cinta kamu, Nayla Az-Zahra.”
Kalimat yang akhirnya keluar dari seorang laki-laki
bernama Juanda. Kalimat itu terus-menerus terputar dalam ingatanku selama
seminggu terakhir ini. Lengkap dengan caranya menatapku, tatapan matanya seakan-akan mencairkan hatiku dan.. dan lembut suaranya ketika ia berbicara
padaku.
Oh, dan aku sangat suka caranya menyebut nama
lengkapku. Berbeda. Amat sangat berbeda dari manusia manapun yang pernah menyebutkannya,
bahkan ibuku. Okay, mungkin menurut
kalian aku terlalu berlebihan atau uhmm ya seperti itu tapi ini nyata. You know that you’re really in love when you know
he’s no good for you but it's worse without him. Even when you try not to want him, you end up needing him. And I guess I really love him. Well, no. I am crazy in
love with him. I think it’s crazy because meski aku pernah mendengar kabar
bahwa Juan adalah playboy cap gayung,
entah kenapa gosip tersebut tidak mampu mengalahkan rasa yang tertanam dilubuk
hatiku yang paling dalam ini. Perasaan ini sangat kuat. Amat sangat kuat. Tidak
seperti rasa yang pernah ada sebelumnya.
Juan dan kecerdasannya. Juan dan ketampanannya. Juan
dan keromantisannya. Juan dan kebaikannya. Juan dan segala yang ada pada
dirinya yang membuatku membuka kembali pintu itu dan mempersilahkannya menjadi
raja di rumah hatiku.
Ini adalah saat yang paling kutunggu selama ini, dan
juga tidak.
Aku pernah mencintai seseorang yang hatinya bukan
untukku dan aku juga pernah dicintai oleh seseorang yang tidak aku cintai. Aku
bahkan tidak tahu mana yang lebih buruk, disakiti atau menyakiti.
Membayangkannya saja aku tak bisa. Can
you?
Namun faktanya, aku pernah berada di posisi keduanya
dan aku merasa sangat buruk. Hingga memutuskan untuk mengisolasi hatiku, mengurungnya disuatu
tempat yang – dulunya - ku yakin takkan ada yang dapat menyentuhnya. Seujung kuku
pun tidak, tanpa seizinku.
Aku juga telah memastikan bahwa pintu itu sudah ku
tutup rapat dan dikunci dengan benar. But,
here I am,-yang untungnya– masih bisa bernafas mengetahui bahwa usahaku
selama ini –untuk menjauhkan hatiku dari luka-luka yang coba mengecupnya-
gagal.
***
*to be continued


0 komentar:
Posting Komentar